DISKUSI PASKA KAMPUS FEB

March 29, 2009

Diskusi paska kampus kali ini menghadirkan bapak Jumairi, Ph.D., seorang dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, dimana beliau juga merupakan anggota Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Materi yang disampaikan oleh beliau adalah terkait “Islam dan Profesionalisme”.
Profesi adalah bidang pekerjaan tertentu yang menuntut keahlian tertentu pula. Orang yang melakukan profesi tertentu biasa disebut sebagai professional. Sedangkan arti dari profesionalisme itu sendiri adalah segala sesuatu yang memiliki kaitan erat dengan professional. Adapun professional itu sendiri berkaitan erat dengan produktivitas dan spesialisasi.
Perbedaan yang paling mendasar dari Negara maju dan Negara berkembang adalah sisi profesionalismenya. Di Negara-negara maju prinsip-prinsip profesionalisme banyak diterapkan, sedangkan di Negara-negara berkembang sikap profesionalisme masih jauh dari tataran implementasi seluruh aspek kehidupan berkeluarga, bermasyarakat bahkan berkenegaraan.
Kenapa ummat Islam Indonesia masih belum mampu bersikap professional?? Hal ini dikarenakan:
·    Tidak tekun dalam mempelajari sesuatu
·    Menganggap enteng pada suatu hal
·    Kesejarahan keilmuan kita terputus dikarenakan sejarah dianggap enteng oleh generasi-generasi sebelumnya

DIALOG TOKOH FEB

March 29, 2009

Dialog Tokoh kali ini menghadirkan Prof. Dr. Ki Surpiyoko, seorang pakar pendidikan, dengan tema “Masa Depan Pendidikan Indonesia Paska disahkannya UU BHP”.
Berdasarkan hasil analisa beliau terhadap UU BHP, ada beberapa point yang penting untuk untuk diperhatikan, yaitu sebagai berikut:
Pasal 5 ayat 1, 2, 3.
Bahwa BHP itu ada dua yaitu: BHP Penyelenggara dan BHP Satuan Pendidikan.
Pasal 8 ayat 1, 2, 3.
Bahwa SD, SMP, dan SMA yang terakreditasi A akan secara otomatis menjadi BHP. Dan semua Perguruan Tinggi Negeri akan juga secara otomatis menjadi BHP.
Pasal 14 ayat 2.
Pasal 15 ayat 2.
Pasal 18 ayat 2
Pasal 19 ayat 2.
Pasal 41 ayat 5, 6, 7, 9.
Pasal 55 ayat 1, 2, 3, 5.

Akibat dari disahkannya UU BHP adalah sebagai berikut:
Kualitas Pendidikan tidak akan berubah karena UU.
Hal ini dikarenakan UU BHP lebih mengatur administrasi penyelenggara pendidikan, bukan proses dan produk pendidikan. Juga penyelenggara pendidikan terkuras energinya untuk menghadapi kerumitan penyelenggaraan pendidikan.
Pendidikan Swasta akan semakin sulit berkembang.
Hal ini dikarenakan masyarakat enggan mendirikan sekolah atau perguruan tinggi swasta. Juga bahwa konsep pendidikan diserahkan kepada masyarakat sebagaimana terjadi di Amerika Serikat, akan semakin tidak jelas karena tidak relevan untuk diterapkan di Indonesia.

STUDY PUSTAKA FEB

March 29, 2009

Pada Studi Pustaka sesi Februari 2009 Ust. Sapto Waluyo, M.Sc. meresensi sebuah buku yang berjudul “Umat Islam Menyongsong Abad 21”, karangan Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Dimana buku ini merupakan pengembangan dari makalah yang dibuat dan dipresentasikan oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi saat momen pergantian abad dari abad ke-20 menuju abad ke-21.
Dr. Yusuf Al-Qardhawi adalah seorang ulama kelahiran Mesir. Kuliah S1, S2, S3 di Al-Azhar University Kairo. Namun saat ini beliau tinggal di Qatar, karena diboikot oleh pemerintah Mesir dan Kerajaan Saudi Arabia. Di Qatar beliau mengajar di sebuah Universitas dan menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin. Beliau tergabung dalam berbagai gerakan dan organisasi keislaman seperti Al-Quds dan World Islam Scholar. Beliau sangat concern terhadap masalah-masalah kontemporer ummat muslim.
Dalam buku ini, Dr. Yusuf Al-Qarhdawi menjelaskan tentang karakteristik dunia abad ke-20, yaitu sebagai berikut: Kemajuan pesat sains dan teknologi; Merebaknya tuntutan kebebasan dan HAM (namun diikuti gejala-gejala standar ganda, individualisme, dan feminisme); Hancurnya nilai keimanan dan moral. Dalam hal ini beliau banyak memberikan contoh mengenai skandal-skandal yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dunia; dan Perperangan (Perang Dunia I dan Perang Dunia II).
Beliau juga menjelaskan tentang kisah-kisah sukses umat Islam di abad ke-20 ini, yaitu sebagai berikut: Kebebasan nasional; Maraknya pendidikan Islam; Gerakan perubahan dan kebangkitan Islam; dan Merupakan titik tolak kebangkitan. Adapun yang menjadi tanda-tanda kebangkitan ummat saat ini adalah bahwa telah banyak diimplementasikannya syariat Islam di beberapa Negara, gelora jihad umat Islam yang menguat (Hal ini ditandai denagn bermunculannya gerakan-gerakan jihad seperti Mujahidin di Bosnia, Chechnya, Afghanistan dan Intifadhah di Palestina), kembalinya pemuda kepada agama, banyaknya muslimah yang kini memakai jilbab, serta majunya perekonomian yang berlandaskan syarit Islam.

KAJIAN ISLAM KONTEMPORER FEB

March 29, 2009

Pada sesi KIK bulan Februari ini Ust. Ihsan membahas materi Fiqih Prioritas, dimana dalam melakukan sesuatu, khususnya suatu amal kebaikan, seorang muslim dituntut untuk mampu melihat mana amalan yang lebih urgent untuk terlebih dahulu dilakukan dan mana amalan kurang urgent untuk dilakukan. Sehingga dengan memahami dan menguasai konsep fiqih prioritas, kita bisa jauh lebih produktif lagi dalam hidup dan tidak merasa bingung ketika menghadapi suatu dilema dalam mendahulukan suatu amalan daripada amalan yang lain.
Fiqih Prioritas ini sebetulnya dibuat berdasarkan tentang fakta yang ada, yaitu bahwa sesuatu pasti ada tingkatan-tingkatannya dan pasti ada yang tingkatannya lebih tinggi. Fiqih prioritas merupakan telaah mendalam mengenai amal-amal yang merupakan prioritas bagi umat Islam dalam konteks zaman ini. Ternyata kalau melihat literatur keislaman beberapa abad sebelumnya, Saikhul Islam Ibnu Taimiyah telah mengemukakan suatu konsep yang tidak jauh berbeda dengan konsep fiqih prioritas yang dikemukakan oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi, yaitu fiqih pertimbangan. Fiqih Pertimbangan intinya adalah: Memberikan pertimbanganantara beberapa kemaslahatan dan manfaat dari berbagai kebaikan yang diwariskan. Dan Memberikan pertimbangan antara berbagai bentuk kerusakan, manfaat, dan kejahatan yang dilarang agama

TRAINING PENGEMBANGAN DIRI BULAN FEBRUARI 2009

March 29, 2009

Ketika kita menjadi bagian dari suatu komunitas dari sebuah system, maka kita harus bisa menempatkan kepentingan yang merupakan ruang privat dan kepentingan yang merupakan ruang publik pada porsi yang sesuai. Artinya adalah kita tetap focus pada ruang privat kita tetapi di sisi lain kita tetap menghargai ruang publik. Hubungan ideal antara ruang privat dan ruang public adalah yaitu ruang public harus memberikan respect, trust, dan feedback kepada ruang privat. Sebaliknya ruang privat harus mampu memberikan kontribusi eksternalitas positif kepada ruang public. Namun realita yang terjadi adalah ruang privat meminta power dan money dari ruang public dan ruang public harus menerima masalah eksternalitas negative dari ruang privat.

Dalam proses belajar terdapat tujuh buah point yang biasanya menjadi hambatan yang cukup berarti, yaitu sebagai berikut:
I am My Position
Seseorang yang hanya terbatas pada jabatan yang disandangnya saja sehingga dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengan posisinya,walaupun itu kontribusi.
The Enemy is out there
Seseorang yang selalu menyalahgkan lingkungan dan mencari kambing hitam dari setiap masalah yang dihadapinya.
The Illusion of taking Charge
Selalu bersikap agresif terhadap sesuatu yang terjadi diluar sana, sehingga tidak mempertimbangkan hal lain.
The Fixation of events
Hanya melihat suatu masalah dari keterkaitan anta peristiwa dalam waktu jangka pendek.
The Parable of Boiled Frog
The Delusion of Learning from experience

Belajar melakukan tindakan terhadap masalah dari suatu sikap yang sebenarnya dampaknya tidak kita alami.

Terdapat lima tingkat dalam konsep kepemimpinan, yaitu sebagai berikut:
Highly Capable Individual
Pemimpin yang diikuti karena posisi atau jabatan formal. Contohnya adalah seorang General Manager akan dihormati oleh para manager-manager dibawahnya hanya karena jabatan, sehingga mereka mengikuti si GM tersebut karena merupakan suatu keharusan. Apabila si GM sudah tidak menjabat maka dia tidak akan bisa diikuti oleh yang lainnya karena sudah tidak mempunyai jabatan.
Contibuting Team Member
Pemimpin diikuti karena hubungan baik yang dilakukan kepada anggota-anggotanya. Oleh karena itu anggotanya mengikuti karena timbal balik perbuatan baik yang dilakukan oleh pemimpinnya.
Competent Manager
Pemimpin yang diikuti karena prestasinya, sehingga anggota menghargai pemimpin karena respect atau hormat atas prestasi yang berhasil diraihnya.
Effective Leader
Pemimpin diikuti karena apa yang telah dilakukannya dan diberikan kepada anggota-anggotanya. Sehingga anggota respect terhadap apa yang dilakukan pemimpin.
Level 5 Leader
Level yang paling atas adalah pemimpin yang diikuti karena jati dirinya yang mencerminkan seorang pemimpin.

KETAATAN PADA QIYADAH

March 29, 2009

Kekalahan telak pasukan musyrikin di Badar dari pasukan muslimin menyisakan luka mendalam bagi kaum musyrikin Quraisyi di Mekah, terutama mereka yang sanak keluarganya menjadi korban di Badar. Ada yang kehilangan ayahnya, saudara lelakinya, dan bahkan ada yang kehilangan anak laki-lakinya. Hal ini menimbulkan perasaan dendam dari kaum Quraisyi Mekah untuk membalas kekalahannya kepada kaum muslimin. Hari demi hari, bulan demi bulan mereka mempersiapkan kekuatan beserta segala sesuatunya untuk mengadakan perang balasan terhadap kaum muslimin. Akhirnya setelah merasa kemampuan mereka sudah siap dan jauh lebih kuat dari armada mereka di Badar, maka setelah mempersiapkan diri selama satu tahun lamanya mereka memutuskan untuk melakukan penyerangan tersebut. Dan mulailah mereka bergerak keluar kota Mekah menuju Madinah. Kabar adanya pergerakan dari kaum musyrikin Quraisyi Mekah menuju madinah untuk melakukan balas dendam atas kekalahannya di Badar, sampai ke telinga kaum Muslimin Madinah. Dan Rasulullah saw. Menyiapkan pasukan perang kaum muslimin untuk bersiap menyambut kedatangan pasukan musyrikin. Kaum Muslimin kemudian bergerak juga keluar kota Madinah. Singkat cerita sampailah kedua kubu di lembah Uhud. Di sana kaum Muslimin menyusun strategi untuk menghadapi pasukan kaum Musyrikin yang jauh lebih unggul dari segi jumlah dan perlengkapan perangnya. Ada yang bertugas memanah di depan , ada memanah di bukit, dan ada yang bertugas melakukan penyerangan langsung dengan senjata pedang. Pertempuran dimulai, dan berlangsung dengan seru. Meskipun dengan kekuatan armada dan persenjataan perang yang kalah jauh dari kaum musyrikin, kaum muslimin mampu menghadapi serangan kaum musyrikin. Bahkan kaum Muslimin berhasil memukul mundur pasukan kaum musyrikin. Melihat berhasilnya saudara-saudaranya memukul mundur pasukan musyrikin, pasukan muslimin yang ditugaskan untuk memanah dari bukit ikut turun menghajar kaum musyrikin dan mengambil harta rampasan perang. Tanpa disadari oleh pasukan muslimin, satu batalyon pasukan musyrikin mampu mengamati hal tersebut dengan baik dan melakukan suatu langkah startegis. Dengan dipimpin oleh Khalid Ibnul Walid, mereka memutar bukit dan kemudian dengan tanpa adanya pasukan pemanah kaum muslimin di bukit, mereka dengan leluasa menghajar balik kaum muslimin. Dengan kondisi tersebut kaum muslimin berada pada kondisi terjepit. Di depan berhadapan dengan musuh, dan di belakang musuh juga menyerang dengan sangat hebatnya dengan pasukan kuda. Kaum muslimin mencoba untuk tetap bertahan dan melanjutkan peperangan. Namun akhirnya, melihat kondisi yang semakin terdesak oleh musuh, kaum muslimin memutuskan untuk mundur. Dan kemenangan menjadi milik kaum musyrikin Quraisyi Mekah. Korban pun banyak berjatuhan di pihak kaum muslimin, termasuk paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muththalib. Kalau saya coba berandai-andai, jika saja kaum muslimin yang ditugaskan sebagai pemanah di bukit mampu sedikit bersabar dengan tetap patuh terhadap perintah komandan perang pada waktu itu, maka nampaknya cerita akan berakhir lain. Satu batalyon pasukan musyrikin akan berfikir dua kali untuk memutar bukit dan menghajar balik pasukan muslimin. Toh, meskipun mereka tetap berani memutar bukit, maka mereka tidak akan terlalu leluasa menghajar balik pasukan muslimin dari belakang karena mereka harus juga menghadapi pasukan pemanah dari bukit. Sehingga akhirnya peperangan akan berakhir dengan imbang. Dan bukan tidak mungkin kemenangan di Badar akan berulang kembali di lembah Uhud. Menjadi sangat penting untuk kita perhatikan bahwa ketika kita berada dalam kondisi berjamaah dalam melaksanakan suatu perbuatan, yang disana terdapat orang yang menjadi pimpinan dalam jamaah, maka wajib bagi kita untuk menjunjung tinggi ketaatan kepada qiyadah. Apapun yang terjadi nantinya, sebelum ada perintah selanjutnya yang membatalkan perintah sebelumnya maka mereka harus tetap teguh memegang arahan dari pimpinan. Dalam berkeluarga, dalam kehidupan di masyrakat, dalam kehidupan berorganisasi, atau bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentu yang perlu dicatat di sini adalah bahwa ketaatan kita pada pimpinan adalah dalam rangka kita taat kepada Allah dan Rasul-Nya, untuk mendapatkan suatu mashlahat. Sehingga secara otomatis ketika arahan atau perintah dari qiyadah sudah keluar dari rambu-rambu syariat, maka gugurlah kewajiban kita untuk taat kepadanya. Wallahu a’lam bish showwab.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.